INFO LIPUTAN DAN PEMASANGAN IKLAN HUBUNGI TLP. 0711-364344, FAX 0711-364244, EMAIL : MARKETING@SRIWIJAYATV.COM

Tradisi Bekarang Dan Lubuk Larangan Untuk Melestarikan Ekosistem Ikan

Di kabupaten lahat, terdapat sebuah tradisi untuk menjaga ekosistem ikan, agar tidak mengalami kepunahan. Tradisi tersebut disebut Bekarang. Untuk mengetahui bagaimana tradisi yang cukup unik ini, berikut liputannya.

Tradisi bekarang, merupakan suatu proses pengambilan ikan di Lubuk Larangan, yaitu sebuah tempat yang dikhususkan, yang tidak boleh dilakukan aktivitas pengambilan ikan dengan cara apapun, dalam kurun waktu tertentu. Salah satu desa yang masih melestarikan tradisi bekarang, adalah desa muara cawang, kecamatan pseksu, kabupaten lahat.

Di Aliran Sungai Air Kikim besar yang bermuara di Sungai Lematang, yang memiliki lebar 30 meter lebih ini, menjadi tempat bekarang ikan, yang hanya boleh dilakukan jika ada hajatan kampung, acara pernikahan, sunatan, ataupun kematian.

Bekarang juga bisa dilakukan apabila ada keperluan kampung yang mendesak, biasanya ikan hasil bekarang ini akan dilelang, dan uang hasil pelelangan akan digunakan sepenuhnya untuk keperluan desa. Selain itu juga, bekarang akan dilakukan untuk menyambut tamu istimewa yang datang ke desa. Tradisi ini masih terjaga dengan sangat baik, seluruh masyarakat menjaga ekosistem sungai, dengan membuat peraturan agar ikan-ikan yang hidup di sungai ini tak bisa diambil sembarangan. Bila ada warga yang mengambil ikan tanpa persetujuan dari seluruh masyarakat desa, akan diberikan sanksi berupa denda.

Kaum laki-laki yang akan bekarang ini, berbagi tugas , ada yang memasang jaring di bagian hulu dan hilir sungai, ada yang menangkap ikan menggunakan jaring, tombak, bahkan hanya dengan menggunakan tangan kosong. Ikan yang didapat dari sungai ini merupakan ikan endemik air tawar.

Sungai yang menjadi tempat berkarang ini tidak terlalu dalam, sehingga anak-anak juga dapat ikut bekarang sambil bermain air di sungai yang arusnya tidak terlampau deras. Biasanya masyarakat akan mendapatkan ikan semah, ikan kepiat, ikan semutih, ikan seluang, dan ikan sebarau dengan bermacam ukuran. Satu kali bekarang, masyarakat desa biasanya akan memperoleh sebanyak 100 hingga 300 kilogram ikan.

Ikan yang sudah didapat, selanjutnya dikumpulkan menjadi satu untuk segera dimasak oleh perempuan. Di tepian sungai, para perempuan desa ini mengolah ikan hasil bekarang dengan membersihkan dan menyiangi ikan.

Cara memasak ikan bakar cukup mudah, ikan yang sudah dibersihkan selanjutnya ditusuk dan dijepit menggunakan bilah bambu, apabila sudah selesai, baluri ikan dengan menggunakan bumbu halus yang terdiri dari cabai, garam, kunyit dan penyedap rasa.

Cara memasaknya pun cukup mudah, semua bahan dicampur menjadi satu, dimasak di atas tungku api, kemudian diaduk hingga rata. Apabila dirasa sudah cukup merata, ikan dimasukkan ke dalam bumbu tersebut, setelah mendidih, aroma khas masakan ini pun menyebar diterpa angin.

Share this

This post has 0 Comments

    Kirim Komentar